Blog EntryDARI NGOBYEK MENUJU ENTREPRENEURJan 2, '09 1:43 AM
for everyone
rusmanjh <rusmanjh@yahoo.com> wrote:
DARI NGOBYEK MENUJU ENTREPRENEUR

Sewaktu masih bersekolah di SMP dulu, saya punya

pengalaman yang
unik. Beberapa teman saya umurnya agak lebih tua dari

rata-rata umur
siswa SMP kelas 3 di sekolah kami. Meski hanya lebih tua

2 tahun,
namun penampilan mereka sangat berbeda dari siswa-siswa

lainnya.
Mereka tampak jauh lebih dewasa dari usia sebenarnya,

apalagi dari
status mereka yang masih pelajar SMP kelas 3. Pakaian

necis
mentereng, sepatu selalu baru dan mengkilat, kadang-

kadang pamer
kacamata hitam "nite-n-day", dan kadang-kadang pula

merokok sigaret
luar negeri (tentunya sembunyi-sembunyi dari penglihatan

guru).

Yang paling membuat kagum saya dan teman-teman adalah

bahwa mereka
selalu datang ke sekolah menggunakan sepeda motor baru

yang tampak
mewah sekali. (Zaman itu sepeda motor masih merupakan

barang mewah,
dan pelajar yang menggunakan mobil ke sekolah hanyalah

mereka yang
anak pejabat tinggi saja). Mereka pun punya punya banyak

uang,
terbukti dari royalnya mereka mentraktir kami makan atau

minum hampir
setiap hari.

Keadaan tersebut tentu saja menimbulkan pertanyaan besar

di benak
saya dan teman-teman. Dari mana mereka mendapatkan

segala kemewahan
itu, dan dari mana pula mereka bisa memiliki banyak

uang? Bukankah
mereka hanya anak-anak SMP kelas 3 yang belum waktunya

untuk
bekerja?

Tidak tahan menyimpan teka-teki, akhirnya saya putuskan

untuk
bertanya langsung. Salah seorang dari teman-teman kami

yang "kaya"
itu akhirnya membuka rahasia, bahwa ia mendapatkan uang

untuk membeli
segala sesuatu yang mereka sukai itu bukan dari

pemberian orang tua,
karena orang tua mereka bukanlah orang kaya. Mereka

mendapatkannya
dengan jalan "mengobyek"!

Ngobyek? Apa itu? Ternyata yang dimaksud dengan

"ngobyek" adalah
kegiatan "berbisnis" dengan jalan menjadi mediator atau

perantara
dalam berbagai transaksi jual beli sepeda motor. Setiap

kali
transaksi terjadi, mereka akan mendapatkan sekian persen

sebagai
komisi. Nah, karena sepeda motor waktu itu masih mahal,

dapat
dibayangkan berapa besar mereka mendapatkan uang dari
kegiatan "ngobyek". Apalagi kalau diingat mereka tidak

lebih dari
anak-anak yang masih berstatus pelajar. Luar biasa.!

Saya sangat terkesan dengan sepak terjang teman-teman

yang sudah
mampu mencari penghasilan sendiri itu. Mereka mampu beli

motor
sendiri, yang bahkan tidak semua orang dewasa mampu

membelinya. Buka
main..!

Sampai di rumah, saya bercerita kepada orang tua saya

tentang
kehebatan teman-teman tersebut. Sambil menyatakan rasa

kekaguman
saya, saya pun menanyakan pendapat ayah dan ibu

bagaimana kalau saya
juga mengikuti jejak teman-teman itu untuk "ngobyek".

Toh hasilnya
nyata, dan paling tidak, dengan hasil ngobyek, uang

sekolah akan
dapat saya bayar sendiri tanpa menggangu keuangan orang

tua.

Namun, tahukah Anda apa jawaban kedua orang tua saya?

Bukan saja
mereka tidak menyetujui, mereka bahkan setengah marah

mengatakan pada
saya: "Tidak, tidak! Lupakan semua itu. Teman-teman kamu

itu nggak
bener.. Anak sekolah tugasnya adalah sekolah dan belajar

baik-baik.
Jangan sekali-kali tergoda dengan uang. Sekali kamu

tergoda uang,
pelajaran kamu akan hancur dan masa depan kamu suram.."

Saya kecewa sekali dengan sikap kedua orang tua saya

itu. Tapi ya,
sudahlah. Barangkali mereka memang benar, demikan saya

menghibur diri.

Bertahun-tahun kemudian, setelah selesai sekolah dan

setelah menjadi
profesional beberapa waktu lamanya, saya terjun ke dunia

usaha. Saya
mendirikan perusahaan sendiri berbentuk PT dan memulai

semuanya
dengan modal kecil yang serba pas-pasan. Di periode

itulah saya baru
merasakan betapa beratnya menjadi seorang pengusaha

pemula yang tidak
mempunyai bekal apa pun untuk berusaha. Modal cekak

milik sendiri,
tidak ada panutan, tiada pengalaman sama sekali, serta

tak pula punya
jaringan yang memadai. Saking beratnya permasalahan yang

saya
hadapi, saya sempat dalam hati mengecam pemerintah yang

kebijakan-
kebijakannya tidak berpihak kepada pengusaha kecil,

berlawanan dengan
apa yang selama ini didengung-dengungkan.

Usaha kecil yang masih terseok-seok mencari sesuap nasi,

benar-benar
membuat saya stres. Puncaknya terjadi saat krisis

moneter merebak di
Indonesia. Sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah krisis,

dikhianati
teman pula. Usaha saya hancur, proyek perusahaan berikut

sebagian
besar karyawan saya diboyong teman tadi yang sebelumnya

berstatus
partner usaha.

Kepalang tanggung, PT saya bubarkan. Saya ingin

membangun ulang
usaha saya tanpa kehadiran siapa pun. Tidak ada lagi

partner-
partneran. Kalau teman sejak kecil saja berkhianat,

tentu tidak ada
lagi orang yang bisa dipercaya, gumam saya dalam emosi.

Semua hutang
perusahaan saya lunasi dengan semua aset yag masih

tersisa. Uang
kas, peralatan dan perlengkapan perusahaan, semua saya

likuidasi.
Belum cukup, tidak kurang dari satu rumah dan dua mobil

milik pribadi
sekalian saya jual untuk menutup hutang. Saya berfikir,

ini
pengalaman luar biasa bagi saya. Pengalaman yang harus

saya hadapi
dengan senyum dan kelapangan dada.

Namun setelah itu, saya sendiri menjadi bingung. Setelah

semua aset
habis, apalagi yang dapat saya perbuat? Berhari-hari

lamanya saya
tercenung dengan pertanyaan yang sama, apa yang bisa

saya perbuat..
apa yang bisa saya perbuat… semua aset sudah habis..

sudah habis..

Sampai pada suatu hari, ketika pikiran saya menerawang

menelusuri
perjalanan hidup yang unik ini, saya mendadak teringat

dengan sepak
terjang teman-teman di SMP dulu, yang berbisnis dengan

"mengobyek"
sepeda motor. Aha! Betul, bukankah mereka dulu berbisnis

tanpa
modal, menjadi perantara, menjualkan motor orang lain

dan akhirnya
memperoleh banyak uang? Sebuah inspirasi telah muncul

begitu saja.

Dengan segera saya hubungi seorang teman bisnis yang

mempunyai
perusahaan komputer cukup besar. Untuk ukuran komputer

lokal,
perusahaan dia ini bahkan yang terbesar. Saya utarakan

maksud saya
untuk bekerja sama dengan jalan menjadi reseller non-

quota dari
perusahaannya itu. Teman ini langsung menyambut baik,

bahkan
berjanji untuk membantu saya sebaik-baiknya. Maka sejak

itu, saya
pun bisa menjalankan bisnis lagi seorang diri, tanpa

mitra, tanpa
pegawai. Tugas saya hanya mencari order ke sana ke mari,

sedangkan
semua pekerjaan administratif dan juga semua pekerjaan

teknis,
ditangani oleh para staf dari perusahaan teman saya itu.

Hubungan kerja antara saya dengan perusahaan tersebut,

dibakukan
dalam sebuah MoU (Memorandum of Understanding = Nota

Kesepakatan),
yang di dalamnya antara lain menunjuk saya sebagai

Direktur Marketing
yang berhak melakukan penjualan, negosiasi, pengambilan

keputusan,
sampai ke penandatanganan kontrak untuk dan atas nama

perusahaan.
Semua perangkat pemasaran (marketing tools) dipenuhi

oleh teman ini,
mulai dari kartu nama, brosur, proposal sampai kepada

perlengkapan
presentasi. Hanya saja, saya tidak mendapat gaji sama

sekali, karena
saya bukanlah karyawan, melainkan seorang wirausahawan

lepas.

Saya katakan wirausahawan lepas, karena posisi saya

berbeda dengan
seorang salesman lepas. Seorang sales dibebani dengan

quota/target,
sedangkan saya tidak. Sales mendapat uang transport dan

komisi,
sedangkan saya tidak mendapat uang transport, tidak pula

komisi.
Yang saya dapatkan adalah "bagi hasil" dan jabatan saya

adalah
setingkat Direksi (dalam hal ini Direktur Pemasaran).

Berjalan beberapa bulan, ternyata bisnis saya lancar.

Apalagi,
dukungan teman saya cukup maksimal, sehingga saya tidak

perlu pusing
dengan urusan teknis, seperti instalasi, implementasi,

garansi,
pemeliharan dan reparasi, karena semua sudah menjadi

tanggungan
Divisi Teknik dari perusahaan teman saya itu. Demikian

juga dengan
urusan administrasi seperti kontrak jual-beli,

penagihan, laporan
pajak dan tetek bengek lainnya, semua sudah beres tanpa

saya ikut
campur tangan.

Dengan kerja seperti itu, wah.. saya merasa bagaikan

seekor macan
yang tumbuh sayap. Konsentrasi saya penuh hanya kepada

masalah
penjualan, sehingga dalam waktu relatif singkat sejumlah

order sudah
saya dapatkan. Pelaksanaan lapangan lancar, urusan bagi

hasil juga
alhamdulillah lancar. Saya senang, teman saya dan

perusahaannya pun
senang. Inilah sebuah mekanisme kerja sama yang betul-

betul
didasarkan atas konsep "win-win solution", sebagaimana

diistilahkan
oleh Stephen Covey.

Lancarnya usaha seperti ini, membuat saya menjadi

"ketagihan". Saya
coba untuk menerapkan skema kerja sama yang serupa

dengan perusahaan-
perusahaan lain. Ternyata, sebagian besar perusahaan

yang saya
hubungi menyambut baik tawaran kerja sama yang saya

ajukan. Tidak
kurang dari 4 perusahaan besar menjadi mitra saya

setelah itu.

Saya lihat, asalkan konsep kerja dan proposal yang

diajukan dasarnya
jelas, masuk akal dan menjanjikan keuntungan yang

proporsional bagi
kedua pihak, rata-rata perusahaan akan bersedia

menjalankannya. Maka
demikianlah,sedikitnya sekitar 2 tahun kemudian, saya

berkiprah
sebagai "One Man Enterprise" (perusahaan 1 orang),

usahawan yang
berkiprah betul-betul hanya mengandallan duit orang

lain, tenaga
orang lain dan bahkan perusahaan orang lain. Saya betul

-betul
bahagia dengan bekerja seperti itu. Kerja fokus, duit

lancar,
pekerjaan tetek bengek dikerjakan orang lain.

Sampai saat ini, saya masih menjabat sebagai direktur di

2
perusahaan, serta sebagai Vice President di sebuah

perusahaan
lainnya. Ketiga perusahaan itu sepenuhnya milik orang

lain, bukan
milik saya. Selain di salah satu di antaranya, di mana

saya punya
saham kosong, saya tidak punya saham lain dari

perusahaan-perusahaan
tersebut. Tapi penghasilan saya sering kali lebih besar

dari
beberapa pemilik saham.

Komposisi bagi hasil yang tercantum di MoU memungkinkan

hal itu bisa
terjadi. Itu juga sebabnya, saya sering menolak jika

saya ditawari
pembelian saham oleh para mitra saya. Alasannya, kalau

saya menjadi
pemilik saham, maka saya harus ikut menanggung rugi saat

perusahaan
merugi. Sedangkan sebagai mitra, saya tidak memiliki

kewajiban
demikian. Wow! (rh)

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Entrepreneurial Leadership Center




Add a Comment
   
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help